Jumat, 03 Maret 2023

Mengais Butir Emas Hitam

 

Mengais Butir Emas Hitam

(Wahyu Ari Wijaya)


Pagi ini sangat cerah di Dusun Ranting, langit tampak biru muda tanpa ada sehelai awan, cahaya matahari semburat merah bata kekuningan menembus rindangnya dedaunan pohon jati.  Suasana cerah alam ini tidak secerah di rumah mungil dengan tembok tanpa dikuliti semen sehingga tampak susunan batu bata dan dibagian bawah berlantaikan semen serta bagian atas belum beratap sehingga terlihat genting dan pada bagian tertentu susunannya merenggang sehingga cahaya matahari menyorot masuk kedalam rumah. Tampak di belakang rumah seorang anak laki-laki usia sekolah menengah atas sedang memberi makan domba-domba yang berada di kandang. Biasanya dia bersama bapaknya memberi makan domba, akan tetapi beberapa waktu lalu bapaknya telah meninggal akibat sakit sesak yang dideritanya.

“Irwan, Ayo antar Emak!” tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah.

“Ya, Mak.” sahut anak laki-laki dari kandang domba.

“Kamu dimana?”

“Masih kasih makan domba dulu.”

“Jangan lama-lama nanti keburu siang!”

“Ya, Mak.”

Tidak lama kemudian Irwan mengeluarkan sepeda motor butut dua tak dan sesaat kemudian sepeda motor sudah melaju menuju pusat kecamatan berjarak sepuluh kilometeran. Irwan menghentikan sepeda motornya dan parkir di halaman sebuah rumah bercat hijau terdapat papan nama berslogan mengatasi masalah tanpa masalah. 

“Kamu ikut masuk atau tunggu di luar?” tanya Emak

“Ikut masuk saja, Mak.” Jawab Irwan.

“Takut Emak pusing di dalam, nanti tidak ada yang nolong.” lanjutnya.

Di dalam ruang ber-AC dan berbau harum sudah ada dua orang nasabah duduk menunggu antrian ke teller. Emak duduk di bangku depan sedangkan Irwan duduk di bangku belakang. Mata Irwan memandang ke sekeliling ruangan.

“Oooo ada CCTV di tiap sudut tembok” gumamnya dalam hati. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara mendesis. dari arah dinding samping kirinya.

“Chiissss…..”

“Ada ular……” spontan Irwan berteriak dan berdiri bersiaga takut digigit ular.

“Ada apa, Dik?” tanya Pak Satpam yang sejak tadi berdiri di dekat pintu keluar-masuk keheranan.

“Ada ular…. Pak!” lanjut Irwan.

“Ooooo…. Itu bukan suara ular” penjelasan Pak Satpam, “itu suara pengharum ruangan elektrik.” lanjutnya.

Beberapa saat kemudian suara Chiiissss terdengar lagi, kali ini Irwan melihat sendiri suara keluar dari benda tabung putih menempel di dinding sambil menyemburkan gas dan ruangan berbau harum.

“Oooo… ya, pengharum. Maaf, Pak. Kirain ada ular.” 

Pak Satpam dan orang-orang yang berada di dalam ruangan tersenyum melihat tingkah laku Irwan dan dia duduk kembali. Kali ini mata Irwan menatap beberapa brosur yang disediakan untuk nasabah; ada angsuran kendaraan, pinjaman lunak, gadai emas, tabungan emas. Tangan Irwan mengambil satu brosur untuk dibaca-baca sambil menunggu Emak selesai transaksi.

“Ayo pulang!” tiba-tiba suara Emak mengagetkan Irwan.

“Sudah selesai, Emak?”

“Sudah…., Emak hanya nebus cincin.” Sambil berjalan keluar,

“Ini satu-satunya tinggalan Bapakmu yang tersisa, sebenarnya ada dua cincin semua Emak gadaikan untuk berobat Bapakmu, tapi sayang yang satu tidak terselamatkan, Emak tidak bisa nebus dan dilelang.” sambil bernafas landung.

“Saat Bapakmu meninggal, ada uang duka mencukupi untuk menebus satu cincin ini.” lanjut Emak sambil menyeka air mata yang tidak terasa meleleh ke pipi. Irwan hanya tertunduk tampak juga matanya berkaca-kaca.

“Sudahlah, Mak…. Mari pulang.” ajak Irwan untuk bergegas pulang.

“Aku mau mencacah tebon pakan domba.”


*****


“Mak, Emak….Ada Juragan Ardi.” seorang anak perempuan kecil berteriak dari halaman rumah. Dia adik Irwan, Yuni namanya. Namun tidak ada jawaban dari dalam rumah. Atas perintah juragan Ardi dia kemudian lari ke dalam rumah mencari Emak dan tidak bertemu.

“Emak tidak ada, Juragan.” setelah dia keluar menemui tamu, juragan Ardi. 

Juragan Ardi merupakan orang terpandang di Dusun Ranting, dia pemilik dan peternak domba-domba, termasuk domba yang dipelihara oleh keluarga Irwan dengan sistem bagi hasil.

“Nah itu…. Emak dan Mas Irwan.” teriak Yuni. 

Tampak Emak dan Irwan membawa tebon dari arah tegal.

“Eeeee…. ada juragan Ardi,” sapa Emak.

“Sudah lama, Juragan?”

“Belum Emak,” jawaban Juragan Ardi.

“Ada apa ya, tumben juragan datang sendiri kesini?”

“Gini, Emak…. Domba-domba yang dipelihara almarhum akan saya jual.” Juragan Ardi menyampaikan maksud kedatangannya.

“Saya takut domba-domba di sini tidak terawat dengan baik.” penjelasannya.

“Jangan Juragan….!” tiba-tiba Irwan menyela,

“Saya yang akan merawat domba-domba Juragan.” pinta Irwan

“Toh selama ini saya juga membantu almarhum Bapak merawat domba-domba.”

“Kamu kan harus sekolah, mulai pagi sampai sore.” sanggah juragan Ardi. 

“Bisa kelaparan domba-domba ku.”

“Pagi sebelum berangkat sekolah saya beri pakan, siang Emak yang kasih pakan dan sore setelah pulang sekolah saya yang kasih pakan, saya jamin domba-domba juragan tidak akan kelaparan.” penjelasan Irwan.

“Iya Juragan…, benar kata Irwan. Emak dan Irwan yang meneruskan memelihara domba-domba.” sambung Emak.

“Dari domba ini penghasilan kami, Saya mohon Juragan memberi kepercayaan untuk meneruskan almarhum Bapak memeliharanya.” pinta Emak sambil mengiba.

“Baiklah…. Saya beri kesempatan satu periode panen, jika baik bisa dilanjut.” kata juragan Ardi.

“Terima kasih, Juragan.” timpal Irwan


*****


Pola pemeliharaan domba yang dilakukan Irwan dengan menggunakan pakan fermentasi dari tebon atau rumput gajah yang tumbuh subur di tegal atau lereng bukit tepi hutan rerimbunan pohon jati di dusun nya, sehingga dia tidak perlu setiap hari mencari ramban dedaunan untuk pakan domba. Dengan pakan fermentasi ternyata membuat domba cepat gemuk, serta kotoran yang dihasilkan ternyata tidak menimbulkan bau baik air kencing maupun kotoran padat “srintil” domba tidak berbau. Srintil merupakan kotoran dari domba berupa bulir padat berwarna coklat kehitaman.

Di lahan samping kandang tempat pembuangan srintil ternyata tumbuh tanaman jagung dengan subur. Melihat beberapa tanaman tumbuh subur, Irwan mencoba mengolah srintil menjadi pupuk organik dengan cara srintil dicampuran dedak dan bakteri pengurai EM4, kemudian difermentasi serta dikemas dalam plastik lima kiloan. Pupuk organik yang dibuat Irwan tidak memerlukan waktu lama dari srintil mentah menjadi pupuk organik siap pakai.

Kemasan srintil pupuk organik buatan Irwan dijual ke sekolahnya untuk memupuk tanaman hias dan tanaman produktif yang ada di lingkungan sekolah serta dibeli juga oleh guru-gurunya. Dia juga menitipkan ke penjual tanaman hias di rest area wisata hutan jati desanya dengan sistem konsinyasi, titip barang dan bayar jika ada yang sudah laku. Tidak terasa produksi srintil pupuk organik Irwan semakin laris, banyak pesanan dari kota dan dia mampu mengolah srintil yang ada di dusun nya, sehingga dari produksi srintil pupuk organik menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarganya. 


*****


“Mas Irwan, Ayo ikut mengantar domba dan srintil pupuk organik ke kota.” Ajak Juragan Ardi sekarang menjadi mitra usaha Irwan dalam stok srintil mentah dan pemasaran srintil pupuk organik miliknya.

“Baik Juragan.” 

Pada saat perjalanan pulang dari kota, Juragan Ardi mengajak berhenti istirahat makan soto kambing. Warung soto kambing berada di dekat bangunan rumah bercat hijau. Irwan teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika dia mengantar Emak ke tempat itu menebus cincin tinggalan Bapaknya. 

“Sebentar, Juragan. Saya ke sebelah sebentar.” ijin Irwan ke juragan Ardi.

“Ada perlu apa?” tanya Juragan Ardi penasaran.

Irwan berlalu tanpa menjawab pertanyaan Juragan Ardi. Sampai di dalam ruangan dia mencari informasi tentang tabungan emas. Setelah mendapat informasi yang benar dan lengkap dia membuka rekening tabungan emas.


***** 


Secara rutin setiap kali mendapatkan keuntungan dari menjual srintil pupuk organik dia selalu menyisihkan uang untuk ditabung dalam bentuk tabungan emas. 

“Emak…. Ini ada hadiah buat Emak.” kata Irwan kepada Emaknya pada suatu sore hari di teras belakang rumah yang sudah berkeramik, sambil memandang kandang domba-domba miliknya dan tumpukan kemasan srintil pupuk organik siap kirim.

“Hadiah apa, Irwan?” tanya Emak penasaran.

“Ini hadiahnya…..” sambil memberikan buku tabungan emas hasil penjualan srintil pupuk organik. 

“Buku tabungan apa ini?” Emak semakin tidak mengerti dan bingung.

“Ini tabungan emas, Emak.” penjelasan Irwan 

“Pegadaian membuka tabungan untuk simpanan uang dikurskan bentuk batangan emas, jadi kita nabung emas.” 

“Ini ganti cincin Emak-Bapak yang dulu tidak tertebus.” lanjut Irwan.

“Dan besok pagi kita ke pegadaian untuk daftar Haji.”

“Oooo allah, Irwan….” tampak air mata Emak meleleh di pipi yang sudah keriput.

“Dulu kita boleh keluar-masuk pegadaian untuk mendapatkan uang dari jaminan perhiasan emas, tapi sekarang kita keluar-masuk pegadaian untuk membeli emas hasil penjualan srintil pupuk organik.” kata-kata Irwan menggebu menyemangati diri sendiri. 


*****






















BIODATA PENULIS




Hallo, Saya Wahyu Ari Wijaya kelahiran Kediri, 14 Nopember 1975. Hobi sejak SD senang menulis puisi, menulis cerita pendek meskipun tidak dipublikasikan. Waktu anak-anak sampai remaja dihabiskan di kota Pare-Kediri yang saat ini menjadi Kampung Inggris Pare. Kecintaan membaca dan menulis serta penelitian remaja menghantarkan masuk IKIP Malang jurusan Pendidikan Fisika tanpa tes di tahun 1994 dan mendapat beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas. Di tahun 2015 berkesempatan lanjut di Pascasarjana Pendidikan Fisika UM dan bonus ke Hangzhou Normal University China selama 1 bulan melalui beasiswa Pemprov Jatim. Karya yang pernah ditulis diantaranya; puisi, LKIR LIPI, Penelitian Ilmiah di Journal UM, Prosiding Seminar Fisika UM, PANJAR UNAS-UJI DIRI Fisika SMP (Panduan Belajar Ujian Nasional dan Ujian Mandiri), Buletin SMPN 1 Dampit SAKSI “Logika Fisika”, Cerita Pendek Fiksi Antologi Selaksa Romantika Hujan “Kampung Pojok” dan Non Fiksi Antologi Menjelajah Opini Kumpulan Artikel “Pentingkah Kerja Proyek STEM untuk Siswa SMA?”

Saat ini bertempat tinggal di Jl. Jaya Srani 1 Blok 7i-23 Sawojajar 2 Malang dengan no HP 081334735778 dan eMail: wahyuariwijaya94@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar