Lapangan Kampung Pojok
Oleh: Wahyu Ari Wijaya
Sore hari menjelang petang suasana Kampung Pojok semakin mencekam, apalagi sejak siang kampung diguyur air hujan. Tampak tiga orang warga berteduh di surau tepi sawah, sambil ngobrol serius. Sudah satu minggu ini warga kampung Pojok dilanda rasa takut yang luar biasa, takut kampung mereka hanya tinggal kenangan, hanya menjadi cerita bahkan mungkin menjadi legenda untuk anak cucu mereka.
Kampung Pojok berada di wilayah dusun Pojok bagian Barat Laut desa Sekapur. Bagian barat Dusun Pojok berbatasan dengan desa Sawor dan bagian Utara berbatasan dengan Desa Wedi. Delapan puluh persen Dusun Pojok berupa tanah pertanian dan hanya 20 persen sebagai lahan hunian terdiri atas 100 kepala keluarga, karena sedikitnya warga Dusun Pojok masyarakat umum lebih sering menyebut warga Dusun Pojok dengan warga Kampung Pojok. Sebagian besar lahan pertanian yang ada di Dusun Pojok dimiliki oleh para tuan tanah dan ditanami padi, jagung, lombok, tomat oleh warga Kampung Pojok sebagai pekerja lepas.
Keresahan warga Kampung Pojok memang beralasan, mereka melihat kenyataan lahan di Desa Sawor yang berbatasan dengan Kampung Pojok semula lahan pertanian sudah disulap menjadi lahan pemukiman oleh developer berupa perumahan umum. Sedangkan lahan pertanian di Desa Wedi yang berbatasan dengan Kampung Pojok juga sudah di petak-petak untuk perumahan purnawirawan tentara. Dan ada wacana dari pengembang melakukan perluasan perumahan ke arah lahan pertanian Kampug Pojok.
“Bahaya, jika perluasan perumahan sampai terjadi ke kampung kita” Celetuk Bondan memecahkan keheningan petang di surau dekat persawahan kampung pojok.
“Iya..., kita terus kerja apa, lahan sawah pastinya sudah jadi rumah”. Sambung Gatot
“Itu dia yang dikeluhkan istriku, kemaren”. Timpal Jono. “kita dapat uang dari mana jika sawah habis jadi rumah?” lanjutnya.
Mereka bertiga Bondan, Gatot dan Jono merupakan warga kampung pojok yang bekerja lepas di sawah dan mempunyai pemikiran maju. Mereka bertiga yang memakmurkan surau di tepi sawah itu.
“Belum lagi jika hujan begini, perumahan di seberang itu selalu kebanjiran.” Sambung Bondan.
“ Yaaa, karena saluran air semula pematang dimatikan diuruk jadi pelebaran jalan.” penjelasan Jono.
“Betul lihat itu, akhirnya air hujan tidak hanya menggenang di perumahan tapi juga di sawah kita.” protes Gatot sambil menunjuk ke arah sawah yang tergenang air hujan. “Coba kalau sawah kita jadi perumahan, tentunya air akan menggenangi kampung.” Lanjunnya.
“Ini yang tidak bisa dibiarkan. Kampung kita akan selalu banjir nantinya jika musim penghujan.” protes Bondan bersemangat.
Seketika suasana sunyi, ketiga orang itu melamunkan apa yang bakal terjadi dengan kampung mereka jika sawah di Kampung Pojok menjadi perumahan umum dan musim penghujan tiba, akan selalu direpotkan dengan banjir.
“Tapi mau bagaimana lagi, juragan kita sudah terlanjur menjual lahan sawahnya untuk keperluan pengembangan perumahan itu.” suara Jono memecahkan lamunan mereka.
“Begini saja, kita ke pakdhe Darno selaku kepala dusun, kita desak untuk bernego ke pengembang perumahan. Mereka boleh mengembangkan perumahan di Kampung Pojok asalkan lahan depan surau ini kita minta untuk lapangan kampung, bisa sebagi resapan air hujan.” Usul Gatot.
“Cerdas sekali ide mu, Gatot.” Sambung Bondan. “Jadi masih ada lahan terbuka bisa untuk menampung air hujan. Dan lapangan bisa kita gunakan untuk latihan sekolah sepak bola (SSB) anak-anak dan kita sewakan, uangnya untuk kas kampung.” Lanjutnya.
“Ditepi lapangan bisa kita buka warung makanan, minuman, tempat penitipan sepeda dari pengguna lapangan.” Jono mengusulkan kedepannya.
“Josss, Jadi kita tidak kehilangan mata pencaharian.” Kata Gatot berapi-api.
Perumahan baru di Kampung Pojok telah berjalan sekitar satu tahun, surau yang dahulu ditepi kampung, sepi dan menghadap ke sawah, sekarang menjadi ramai, berada ditepi lapangan kampung yang setiap sore hari dan minggu selalu ramai untuk SSB. Keberadaan lapangan Kampung Pojok hasil negosiasi warga dengan pengembang perumahan tidak hanya sebagi lahan terbuka dan resapan air buangan sawah maupun air hujan sehingga mencegah banjir saja namun sedikit-demi sedikit meningkatkan taraf hidup warga kampung pojok meskipun mereka tidak lagi mengolah lahan persawahan. Warga tidak hanya berjualan disekitar lapangan, resapan air di lapanganpun dimanfaatkan untuk memelihara ikan lele oleh sebagian warga.
“Alhamdulillah, pakdhe Darno saat itu mau mendengarkan usulan kita.” Bondan membuka pembicaraan.
“Ya..., dan juga pengembang perumahan mau kita nego sepetak tanahnya untuk lapangan kampung.” Sambung Gatot.
“Memang harusnya begitu, developer juga harus memikirkan resapan untuk perumahan yang dibangunnya agar tidak banjir saat musim penghujan.” Penjelasan Jono.
Tampak ketiga orang penggerak warga Kampung Pojok selalu bertukar pikiran sambil duduk santai di surau, entah terobosan apalagi yang akan mereka perbuat untuk memajukan kampung mereka. Dari merekalah perekonomian warga Kampung Pojok mulai bergeser dari buruh tani menjadi peternak budidaya ikan lele, pedagang baik di warung makanan-miniman maupun distributor hasil budidaya ternak lele serta usaha mandiri yang lain.
*************************
Biodata Penulis:
Penulis Wahyu Ari Wijaya, lahir 14 Nopember 1975 di kecamatan Pare-Kediri. Sejak SD belajar menulis bebas bahasa jawa, di SMP menulis puisi, berlanjut SMA dan kuliah senang melakukan penelitian sederhana. Saat ini bertempat tinggal di Malang dan kecintaannya pada dunia pendidikan serta wirausaha, menghantarkan mendapat beasiswa dan berkesempatan ke Hangzou-China.